Berdasarkan data yang dirilis BPS Provinsi Malut, angka distribusi pengeluaran pada September 2025 kembali naik yang menunjukkan kelompok masyarakat berpengeluaran rendah memiliki akses konsumsi yang semakin baik.
Ternate, SALOI.ID
Selain turunnya angka kemiskinan penduduk desa di Provinsi Maluku Utara (Malut), juga dibarengi menurunnya tingkat ketimpangan. Sementara persentase distribusi pengeluaran penduduk desa justru mengalami peningkatan.
Dalam mengetahui tingkat ketimpangan yang sering digunakan untuk mengukur indikator kemiskinan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.
Berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu tinggi jika angka persentase di bawah 12 persen, sedang antara 12-17 persen dan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara (Malut) dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), telah merilis data Distribusi Pengeluaran Penduduk Maluku Utara per September 2025 pada 5 Februari 2026.
Dari data tersebut, terlihat jika distribusi pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di Provinsi Malut ada di angka 23,64 atau kategori rendah.
Kondisi ini meningkat 1,18 persen poin dibandingkan kondisi Maret 2025 yang sebesar 22,46 persen dan meningkat 1,12 persen poin dibanding kondisi September 2024 yang sebesar 22,52 persen.
Dari data tersebut, BPS Provinsi Malut juga membaginya menjadi dua berdasarkan daerah yakni perkotaan dan perdesaan.
Untuk daerah perdesaan, angka distribusi pengeluaran sebesar 25,45 persen dan daerah perkotaan di angka 20,33, yang menunjukan distribusi pengeluaran pada daerah perdesaan lebih tinggi dibanding perkotaan.
“Angka ini mengalami peningkatan sebesar 0,64 persen poin dibanding kondisi Maret 2025 yang sebesar 24,81 persen dan 0,55 persen poin dibandingkan September 2024 yang sebesar 24,90 persen,” kata kepala BPS Provinsi Malut, Simon Sapary dalam keterangannya mengenai angka daerah perdesaan.
Dikatakan, meningkatnya porsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah menunjukkan kelompok masyarakat berpengeluaran rendah memiliki akses konsumsi yang semakin baik.
Lihat: Gini Ratio [2]

